Selasa, 16 April 2013

Hakikat Karangan Ilmiah dan Tahapan Penulisan Ilmiah



1.      - Definisi Hakikat adalah Suatu hakikat lebih mantap dan stabil serta tidak mendatangkan sifat yang berubah-ubah, tidak parsial atau pun yang bersifat fenomenal. Maka yang namanya manusia (an-nas) adlah makhluk tuhan yang memliki ‘’jiwa dan raga’’. Keharmonisan ikatan (integritas) jiwa dan rga tersebut menjadikan manusia dapat bereksistensi (ber-ada). Hakikat dapat menjalankan fungsi-fungsi kemanusian dalam berbagai kegiatan.
-        Ciri Hakikat :
>     Empiris, yaitu didasarkan pada observasi dan akal sehat hasilnya tidak bersifat spekulasi
     (menduga-duga)
>     Teoritas, yaitu selalu berusaha menyusun abstraksi dari hasil obeservasi yang konkret 
     dilpapangan dan abstraksi tersebut merupakan kerangka dari unsur-unsur yang tersusun secara  
     logis dan bertujuan menjalankan hubungan sebab sehingga menjadi teori.
>     Komulatif, yaitu disususn atas dasar teori-teori yang sudah ada, kemudian diperbaiki,diperluas
     sehingga memperkuat teori-teori yang lama.
>     Nonetis, yaitu pembahasan suatu maslah tidak mempersoalkan baik atau buruk maslah tersebut,
     tetapi lebih berlanjut untuk menjelaskan tersebut untuk menjelaskan maslah secara mendalam.

2.      Tahapan penulisan ilmiah:
a.       Susun tahapan penulisan ilmiah, jelaskan : sebelum menjelaskan tentang penyususnan laporan  
       hasil penelitian, terlebih dahulu penulis mengungkapkan maksud dari ungkapan tersebut. 
       Penyusunan merupakan imbuhan dari kata dasr susun yang berarti 
      1. Kelompok atau kumpulan  yang tidak berapa banyak tumpuk. 
      2. Seperangkat barang yang diatur atau bertingkat-tingkat. 
      3. Rangkap yang tindih menindih. Namun dalam referensi ini, yang maksud dengan
          penyususnan adalah proses pengaturan dengan menumpukan dan mengelompokan 
          secara baik.
·        Dengan demikian yang dimaksud penyusunan laporan hasil penelitian adalah proses pengaturan dan pengelompokan secara baik tentang informasi suatu kegiatan berdasarkan fakta melalui usaha pikiran peneloitian dalam mengolah dan menganalisa objek atau topik penelitian secara sistematis dan objektif untuk memecahkan suatu persoalan atau menguji suatui hipotesis sehingga terbuat sebuah prinsip-prinsip umum atau teori.
1.      Cover : salah satu faktor sukses untuk mendapatkan hasil terbaik dalam pembutan makalah pendidikan.
2.      Lembar pengesahan : berisi tanda tangan dan nama lengkap beserta gelar dari judul skripsi, pembuat, pembimbing dan penguji.
3.      Abstrak : yang berwujud ringkasan, sedangkan ikhtisar lebih banyak digunakan pada tulisan pada tulisan ilmiah yang diterbitkan dalam bentuk buku.
4.      Daftar isi : lembar halaman yang menjadi pentunjuk pokok isi buku beserta nomor halaman.
5.      Tabel : Disajikan tidak dalam bentuk tulisan tetapi disajikan dalam bentuk tabel, diagram, grafik, atau bagan.penyajian dengan bentuk tabel, diagram, grafik, atau bagan ini dimaksudkan untuk memudahkan pembaca dalam memahami gagasan yang disampaikan penulis.
6.      BAB I : PENDAHULUAN
1.1.Latar Belakang
 Latar belakang masalah  adalah suatu makalah mencangkup   sebagian besar inti pokok dari masalah tersebut.
1.2. Rumusan dan Batasan Masalah
Atas dasar latar belakang masalah yaang telah di jelaskan sebelumnya , pada bagian ini peneliti mulai mengidentifikasi, membatasi dan selanjutnya merumuskan masalah yang hendak di teliti.
1.3.Tujuan Penelitian
Bagian berisi tujuan penelitian yang hendak di capai , dah hal ini seharusnya mengacu kepada rumrusan dan pernyataan penelitian bahwa tujuan penelitian adalah perubahan kalimat pertanyaan menjadi kalimat pertanyaan.
1.4. Manfaat Penelitian
Sedikit berbeda dengan tujuan penelitian , sub bab manfaat penelitian berisikan manfaat penelitian yang dapat di peroleh daripenelitian yang akan di lakukan peneliti tersebut. Manfaat yang hendaknya ada, sebaiknya meliputi :
·        Manfaat akademis, berisi manfaat kegiatan dan hasil penelitian  bagi dunia akademis.
·        Manfaat praktis, berisi manfaat kegiatan dan hasil penelitian bagi perbaikan/kebaikan objek yang di teliti.
1.5. Bagian berisikan tentang bagaimana secara ilmiah , penelitian akan dilakukan poin-poin penting dalam bagan ini adalah
1.5.1. Objek Penelitian
Menjelaskan ‘profil singkat’ seperti nama, tempat, dan                                              atribut lain dari objek yang akan di teliti.
1.5.2. Data / Variabel
           Menjelaskan data atau variabel-variabel yang akan di gunakan dalam penelitian. Dalam bagian ini dapat di jelaskan nama variabel, jenis variabel, sampai dengan simbol/notasi variabel yang akan digunakan.
1.5.3. Metode Pengumpulan data / Variabel
           Menjelaskan cara-cara ilmiah yang digunakan untuk mendapatkan dat/variabel yang telah disebutkan di bagian sebelumnya. Sebaiknya dijelaskan apakan peneliti mengunakan data  premier atau sekunder, apakah menggunakan sampel atau tidak , jika menggunakan sampel itu diperoleh teknik sampling apa yang digunakan.
1.5.4.Hipotesis
          Bagian ini menjadi optionel , disesuaikan dengan tujuan, jenis penelitian, serta kemampuan masing-masing peneliti.
1.5.5. Alat analisi yang digunakan
          Berisikan metode kualitatif dan kuantitatif yang akan digunakan peneliti dalam pembahasan dan dalam rangka mencapai tujuanpenelitin yang telah di tetapkan.
7.      BAB II : LANDASAN TEORI
2.1. Kerangka Teori
Bagian ini berisikan berbagai pengertian dan pemahaman mengenai teori yang benar-benar relevan dengan topik dan variabel penelitian serta memang benar-benar dibutuhkan untuk membantu menganalisis masalah di bab-bab selanjutnya.
2.2  Kajian Penelitian Sejenis bagian ini berisi kajian peneliti terhadap hasil-hasil penelitian sejenis atau penelitian yang memiliki kesamaan topik/variabel dengan topik atau variabel yang sedang dan akan di teliti oleh peneliti.
2.3  Alat Analisis
Bagian ini berisi penjelasan rinci (rumus,formulasi, langkah-langkah perhitungan ) mengenai berbagai alat analisis deskriptif dan kuantitatif yang akan digunakan dalam analisis masalah/pembahasan .
8.     BAB III : METODE PENELITIAN
3.1. Objek Penelitian
3.2. Data/Variabel Yang Digunakan
3.3. Metode Pengumpulan Data
3.4. Hipotesis
3.5. Alat Analisis Yang Digunakan

Bab III ini untuk memberikan ruang yang lebih luas bagi peneliti dalam menguraikan dan menjelaskan metode penelitian yang akan digunakan m sementara keberadaan sub-sub 1.5. terlalu ringkas, khususnya untuk materi-materi menelitian dengan menggunakan data premier dan melakukan survei.
9.     BAB IV : PEMBAHASAN
4.1. Data dan Profile Objek Penelitian
 Bagian ini berisikan data dan profile singkat objek penelitian, apalagi bila sub-sub 1.5.1 tidak ada cukup ruang untuk menjelaskan profile penelitian.
4.2. Hasil Penelitian dan Analisis/Pembahasan
        Dalam bagian ini . peneliti mulai menyajikan data dan hasil penelitian dan mulai menganalisis secara deskriptif (dengan tabel, grafik, flowa, dan sejenisnya). Serta mengkombinasikannya dengan analisis kuantitatif yang telah di sebutkan dibagian sub bab 1.5.5. yang perlu diperhatikan dalam bagian ini adalah, langkah-langkah analisis/penyelesaian masalah yang sistematis dan mudah dimengerti, serta akurat sesuai keutuhan dan tujuan penelitian.
4.3. Rangkuman Hasil Penelitian
       Berbeda dengan kesimpulan , bagian ini berisi rangkuman hasil penelitian, yang umumnya dapat di sajikan dalam tabel ringkasan hasil. Tujuan dari bagian ini adalah untuk membudahkan pembaca dalam memahami hasil penelitian secara cepat dam mudah.
10.  BAB V : PENUTUP
5.1. Kesimpulan
Bagian ini berisikan kesimpulan dari hasil penelitian , yang pada prinsipnya merupakan  jawaban dari pertanyaan penelitian pada sub-sub rumusan masalah dan juga dapat memenuhi berbagai tujuan penelitian seperti yang telah dicantumkan dalam sub-sub 1.3. dengan data lain ,harus ada benang merah anatara isi kesimpulan dengan rumusan dan tujuan  penelitian.

Perlu diingat bahwa bagian ini harus mampu menutup secara keseluruhan penelitian yang sedang dan telah dilakukan peeliti, serta tidak menjadikan penelitian menjadi ‘mentah’ lagi.











Jumat, 15 Maret 2013

Penalaran Induksi dan Deduksi



Pengertian Penalaran

Penalaran adalah proses berpikir yang bertolak dari pengamatan indera (pengamatan empirik) yang menghasilkan sejumlah konsep dan pengertian. Berdasarkan pengamatan yang sejenis juga akan terbentuk proposisi– proposisi yang sejenis, berdasarkan sejumlah proposisi yang diketahui atau dianggap benar, orang menyimpulkan sebuah proposisi baru yang sebelumnya tidak diketahui.

Pengertian Penalaran Induktif 

Penlaran induktif adalah proses penalaran untuk manari kesimpulan berupa prinsip atau sikap yang berlaku umum berdasarkan fakta – fakta yang bersifat khusus, prosesnya disebut Induksi. Penalaran induktif tekait dengan empirisme. Secara impirisme, ilmu memisahkan antara semua pengetahuan yang sesuai fakta dan yang tidak. Sebelum teruji secara empiris, semua penjelasan yang diajukan hanyalah bersifat sentara. Penalaran induktif ini berpangkal pada empiris untuk menyusun suatu penjelasan umum, teori atau kaedah yang berlaku umum. 

Contoh : Harimau berdaun telinga berkembang biak dengan melahirkan. Babi berdaun telinga berkembang biak dengan melahirkan. kucing berdaun telinga berkembang biak dengan melahirkan. 

Kesimpulan : semua hewan yang berdaun telinga berkembang biak dengan melahirkan.

penalaran induktif membutuhkan banyak sampel untuk mempertinggi tingkat ketelitian premis yang diangkat. untuk itu penalaran induktif erat dengan pengumpulan data dan statistik.

Pengertian Penalaran Deduktif

Penalaran  deduktif adalah metode berpikir yang menerapkan hal-hal yang umum terlebih dahulu untuk seterusnya dihubungkan dalam bagian-bagiannya yang khusus.

Contoh : Masyarakat Indonesia konsumtif (umum) dikarenakan adanya perubahan arti sebuah kesuksesan (khusus) dan kegiatan imitasi (khusus) dari media-media hiburan yang menampilkan gaya hidup konsumtif sebagai prestasi sosial dan penanda status sosial.

Sumber :

Rabu, 10 Oktober 2012

Psikologi Konsumen


PSIKOLOGI KONSUMEN
A. A. Pengertian Psikologi Konsumen
Bidang studi ini ini berkenaan dengan hubungan antara penciptaan suatu produk dan peluang penggunaannya oleh individu dengan proses-proses mental (psikologis). Isi pokok bidang studi ini meliputi pemahaman tentang :
a. Proses psikologi dalam diri konsumen sebagai individu maupun kelompok,
b.Aspek-aspek psikologi yang dipertimbangkan dalam strategi pemasaran/distribusi produk,
c. Riset pemasaran dalam konteks psikologi.
Psikologi konsumen merupakan bagian dalam bidang psikologi industri dan organisasi yang sinergi dengan bidang ekonomi dan akan membantu pemahaman dalam penilaian keinginan-kebutuhan konsumen serta situasi pasar. Psikologi konsumen berakar pada psikologi periklanan dan penjualan. Pada psikologi konsumen tercakup penelitian tentang konsumen sebagai pembeli dan konsumen sebagai konsumen, konsumen sebagai warga negara, serta sebagai sumber data dari pengetahuan perilaku dasar. Masing-masing metode yang digunakan dalam psikologi konsumen memiliki keluasan perbedaan dalam hal disain eksperimentalnya, subjek yang diteliti, prosedur pengumpulan data, dan instrumen instrumennya.
Psikologi konsumen berakar dari psikologi periklanan dan penjualan. Inti dari berjualan adalah membujuk dan meyakinkan orang lain untuk menerima dan melakukan hal-hal yang disampaikan oleh penjual. Iklan mempunyai fungsi ganda yaitu fungsi informasi dan fungsi persuasif. Tingkat efektivitas iklan ditentukan oleh:

1) daya penarik perhatian;
2) interes dan sikap calon konsumen;
3) nilai sugesti dari iklan;
       4) motivasi calon konsumen.




B. Perilaku Konsumen
Katona (1980) memandang perilaku konsumen sebagai cabang ilmu dari perilaku ekonomika (behavioral economics). Perilaku ekonomika merupakan ilmu yang selain mengkaji perilaku konsumen, juga perilaku menabung , perilaku berusaha, atau perilaku berwirausaha, penghasilan yang didapat, perilaku ekonomi dalam sistem pemasaran yang berbeda-beda, perilaku ekonomi politik, proses kerja dan perilaku keorganisasian.
Dalam perkembangan psikologi konsumen, terjadi kecenderungan perubahan focus yang sangat mencolok, yaitu yang semula pandangannya dipusatkan kepada konsumen sebagai pembeli saja fokusnya menjadi konsumen sebagai konsumen, dalam arti yang lebih luas daripada pembeli (Jacoby dalam Munandar 2001)
Perilaku konsumen adalah proses yang dilalui oleh seseorang/ organisasi dalam mencari, membeli, menggunakan, mengevaluasi, dan membuang produk atau jasa setelah dikonsumsi untuk memenuhi kebutuhannya. Perilaku konsumen akan diperlihatkan dalam beberapa tahap yaitu tahap sebelum pembelian, pembelian, dan setelah pembelian. Pada tahap sebelum pembelian konsumen akan melakukan pencarian informasi yang terkait produk dan jasa. Pada tahap pembelian, konsumen akan melakukan pembelian produk, dan pada tahap setelah pembelian, konsumen melakukan konsumsi (penggunaan produk), evaluasi kinerja produk, dan akhirnya membuang produk setelah digunakan.
Konsumen dapat merupakan seorang individu ataupun organisasi, mereka memiliki peran yang berbeda dalam perilaku konsumsi, mereka mungkin berperan sebagai initiator, influencer, buyer, payer atau user.
1. Perilaku Konsumen sebagai Sebuah Studi
yaitu lebih spesifik lagi bidang pemasaran. Studi tentang perilaku konsumen merupakan integrasi antara berbagai bidang ilmu, yaitu ekonomi, sosiologi, antropologi, dan psikologi. Seiring dengan perkembangan zaman, studi perilaku konsumen ini juga makin berkembang.
Studi perilaku konsumen muncul seiring dengan berkembangnya konsep pemasaran, yang merupakan cara pandang pemasar dalam menghadapi konsumen dan pesaingnya, di mana pemasar berusaha memenuhi kebutuhan dan keinginan konsumen secara lebih efektif dari para pesaingnya. Tujuannya adalah memperoleh kepuasan pelanggan. Sehingga ilmu perilaku konsumen dibutuhkan untuk mengidentifikasi apa kebutuhan dan keinginan konsumen dan pelanggan tersebut sehingga pemasar mampu menyusun dan mengimplementasikan strategi pemasaran yang tepat untuk karakteristik konsumen yang menjadi target pasar.
2. Perilaku Konsumen dan Strategi
Perilaku konsumen terkait dengan strategi pemasaran, di mana pemasaran harus mampu menyusun kriteria pembentukan segmen konsumen, kemudian melakukan pengelompokan dan menyusun profil dari konsumen tersebut. Kemudian, pemasar memilih salah satu segmen untuk dijadikan pasar sasaran. Dan setelah itu, pemasar menyusun dan mengimplementasikan strategi bauran pemasaran yang tepat untuk segmen tersebut.
Studi tentang perilaku konsumen juga tidak terlepas pada masalah riset pemasaran. Riset pemasaran adalah salah satu perangkat dalam Sistem Informasi Manajemen (SIM), yang melakukan pengumpulan informasi tentang sikap, motivasi, keinginan, dan hal-hal lainnya tentang konsumen. Informasi ini digunakan sebagai dasar bagi pembentukan karakteristik dari segmen konsumen sehingga konsumen dapat dikelompokkan dan diidentifikasikan, dan dapat dibedakan dari segmen lainnya.
3. Gaya Hidup
Gaya hidup merupakan pola hidup yang menentukan bagaimana seseorang memilih untuk menggunakan waktu, uang dan energi dan merefleksikan nilai-nilai, rasa, dan kesukaan. Gaya hidup adalah bagaimana seseorang menjalankan apa yang menjadi konsep dirinya yang ditentukan oleh karakteristik individu yang terbangun dan terbentuk sejak lahir dan seiring dengan berlangsungnya interaksi sosial selama mereka menjalani siklus kehidupan.
Konsep gaya hidup konsumen sedikit berbeda dari kepribadian. Gaya hidup terkait dengan bagaimana seseorang hidup, bagaimana menggunakan uangnya dan bagaimana mengalokasikan waktu mereka. Kepribadian menggambarkan konsumen lebih kepada perspektif internal, yang memperlihatkan karakteristik pola berpikir, perasaan dan persepsi mereka terhadap sesuatu.
Gaya hidup yang diinginkan oleh seseorang mempengaruhi perilaku pembelian yang ada dalam dirinya, dan selanjutnya akan mempengaruhi atau bahkan mengubah gaya hidup individu tersebut.
Berbagai faktor dapat mempengaruhi gaya hidup seseorang diantaranya demografi, kepribadian, kelas sosial, daur hidup dalam rumah tangga. Kasali (1998) menyampaikan beberapa perubahan demografi Indonesia di masa depan, yaitu penduduk akan lebih terkonsentrasi di perkotaan, usia akan semakin tua, melemahnya pertumbuhan penduduk, berkurangnya orang muda, jumlah anggota keluarga berkurang, pria akan lebih banyak, semakin banyak wanita yang bekerja, penghasilan keluarga meningkat, orang kaya bertambah banyak, dan pulau Jawa tetap terpadat.
Menurut Katona (Munandar 2001) ada lima perangkat ubahan (variabel) yang menentukan dan mempengaruhi perilaku konsumen, yaitu :
1. Kondisi-kondisi yang memungkinkan (enabling conditions) yang menetapkan batas-batas kemampuannya sebagai konsumen, misalnya penghasilan, asetnya = diperolehnya kredit.
2. Keadaan-keadaan yang mempercepat (precipitating circumstances)yang mempengatuhi perilaku ekonomi, seperti peningkatan atau penurunan daya beli (dapat hadiah uang, atau tiba-tiba di PHK), perubahan status keluarga (menikah)
3. Kebiasaan memainkan peran penting. Misalnya dalam membeli makanan, sabun, rokok dan sebagainya
4. Kewajiban-kewajiban perjanjian (contractual obligations) dari orang seperti (sewa, premium asuransi jiwa, pajak, bayar cicilan untuk mobil ) mempengaruhi perilaku ekonomi.
5. Keadaan psikologikal konsumen.





C. Konsumen, Konsumsi, Konsumtif dan Konsumerisme
1. Konsumen
Konsumen adalah setiap orang pemakai barang dan atau jasa yang tersedia dalam masyarakat, baik bagi kepentingan diri sendiri, keluarga, orang lain, maupun makhluk hidup lain dan tidak untuk diperdagangkan. Sesuai dengan Pasal 5 Undang-undang Perlindungan Konsumen, Hak-hak Konsumen adalah :
1. Hak atas kenyamanan, keamanan dan keselamatan dalam mengkonsumsi barang dan/atau jasa;
2. Hak untuk memilih barang dan/atau jasa serta mendapatkan barang dan/atau jasa tersebut sesuai dengan nilai tukar dan kondisi serta jaminan yang dijanjikan;
3. Hak atas informasi yang benar, jelas dan jujur mengenai kondisi dan jaminan barang dan/atau jasa;
4. Hak untuk didengar pendapat dan keluhannya atas barang dan/atau jasa yang digunakan;
5. Hak untuk mendapatkan advokasi, perlindungan dan upaya penyelesaian sengketa perlindungan konsumen secara patut;
6. Hak untuk mendapat pembinaan dan pendidikan konsumen;
7. Hak untuk diperlakukan atau dilayani secara benar dan jujur serta tidak diskriminatif;
8. Hak untuk mendapatkan kompensasi, ganti rugi/penggantian, apabila barang dan/atau jasa yang diterima tidak sesuai dengan perjanjian atau tidak sebagaimana mestinya;
9. Hak-hak yang diatur dalam ketentuan peraturan perundang-undangan lainnya.
Sesuai dengan Pasal 5 Undang-undang Perlindungan Konsumen, Kewajiban Konsumen adalah :
1. Membaca atau mengikuti petunjuk informasi dan prosedur pemakaian atau pemanfaatan barang dan/atau jasa, demi keamanan dan keselamatan;
2. Beritikad baik dalam melakukan transaksi pembelian barang dan/atau jasa;
3. Membayar sesuai dengan nilai tukar yang disepakati;
4. Mengikuti upaya penyelesaian hukum sengketa perlindungan konsumen secara patut.
Contoh konsumen : seorang ibu rumah tangga membeli sayuran dipasar, kemudian memasaknya dan untuk dimakan bersama keluarganya.




2. Konsumsi
Konsumsi, dari bahasa Belanda consumptie, ialah suatu kegiatan yang bertujuan mengurangi atau menghabiskan daya guna suatu benda, baik berupa barang maupun jasa, untuk memenuhi kebutuhan dan kepuasan secara langsung.
Contoh kegiatan konsumsi adalah seperti makan di warteg, ke dokter kandungan, beli combro dan misro untuk dimakan sendiri atau berame-rame, dsb.



3. Konsumtif
Kata konsumtif diartikan sebagai pemakaian (pembelian) atau pengonsumsian barang-barang yang sifatnya karena tuntutan gengsi semata dan bukan menurut tuntutan kebutuhan yang dipentingkan (Barry, 1994). Ahli ekonomi menegaskan bahwa perubahan permintaan individu terjadi, dikarenakan perubahan ceteris paribus, seperti: gengsi (prestige). Jadi, kata konsumtif lebih menjurus pada perilaku seseorang di dalam mengkonsumsikan suatu barang dan jasa-jasa tertentu tanpa syarat kebutuhan dan fungsinya. Selain itu Konsumtif juga dapat diartikan sebagai keinginan untuk mengkonsumsi barang-barang yang sebenarnya kurang diperlukan secara berlebihan untuk mencapai kepuasan yang maksimal. Konsumen memanfaatkan nilai uang lebih besar dari nilai produksinya untuk barang dan jasa yang bukan menjadi kebutuhan pokok.
Budaya konsumtivisme menimbulkan shopilimia.Dalam psikologi ini dikenal sebagai compulsive buying disorder (penyakit kecanduan belanja). Penderitanya tidak menyadari dirinya terjebak dalam kubangan metamorfosa antara keinginan dan kebutuhan. Ini bisa menyerang siapa saja, perempuan atau laki-laki.
Susahnya, kita terjebak dalam kehidupan konsumeristik yang dibawa pasar kapitalisme. Jadi ritual itu dipaket begitu rupa oleh pasar kapitalisme menjadi lebih konsumtif dan menjadi bagian dari budaya populer. Kehidupan kaum muslimin saat ini berada di tengah arus kapitalisme.


a) Remaja Rentan terjebak dalam gaya hidup konsumtif
Remaja yang bergaya hidup konsumtif rela mengeluarkan duitnya hanya untuk jaga gengsi dalam pergaulan. Baik itu masalah makanan dan minuman, pakaian, juga masalah hiburan (Food, Fashion, and Fun). Hal ini merupakan perwujudan dari gharizah al baqa (naluri mempertahankan diri). Setiap orang ingin dianggap eksis dalam lingkungan pergaulannya.
Bagi produsen, kelompok usia remaja adalah salah satu pasar yang potensial. Alasannya antara lain karena pola konsumsi seseorang terbentuk pada usia remaja. Di samping itu, remaja biasanya mudah terbujuk rayuan iklan, suka ikut-ikutan teman, tidak realistis, dan cenderung boros dalam menggunakan uangnya. Sifat-sifat remaja inilah yang dimanfaatkan oleh sebagian produsen untuk memasuki pasar remaja.
Saat remaja sedang gandrung dengan gaya hidup mewah, para pengusaha yang tak bertanggung jawab malah memberikan saluran untuk menampung gelegak nafsu konsumtif remaja. Produk-produk makanan, minuman, pakaian, sampai hiburan dikemas begitu rupa supaya remaja betah dan merasa nyaman dengan gaya hidup konsumtif yang selalu identik dengan kemewahan tersebut.


b) Bahaya gaya hidup konsumtif
Gaya hidup konsumtif lebih mementingkan prestise, sehingga para pecandu gaya hidup konsumtif yang sudah parah tidak lagi peduli dengan halal atau haram dari produk yang dikonsumsinya. Perilaku konsumtif ini dapat terus mengakar di dalam gaya hidup sekelompok remaja. Dalam perkembangannya, mereka akan menjadi orang-orang dewasa dengan gaya hidup konsumtif. Gaya hidup konsumtif ini harus didukung oleh kekuatan finansial yang memadai. Masalah lebih besar terjadi apabila pencapaian tingkat finansial itu dilakukan dengan segala macam cara yang tidak halal. Mulai dari pola bekerja yang berlebihan sampai menggunakan cara instan seperti korupsi.
Prioritas infaq berubah, sehingga banyak diantara kita yang berani mengeluarkan uang untuk membeli produk bermerek yang mahal harganya, karena kita sekaligus beli prestis. Tapi mereka merasa berat untuk menyumbang kegiatan ke-Islaman. Pada akhirnya perilaku konsumtif bukan saja memiliki dampak ekonomi, tapi juga dampak psikologis, sosial bahkan akhlaq.
c) Tips-tips Menghindari Gaya Hidup Konsumtif
Setiap keluarga harus membuat perencanaan keuangan bulanan secara baik, dengan melakukan skala prioritas terhadap kebutuhan pokok, seperti pangan, sandang, papan, listrik/air, pendidikan, silaturrahmi dan shodaqoh. Besarnya perencanaan pengeluaran tersebut harus disesuaikan dengan pendapatan.
Selanjutnya, jika berbelanja harus disesuaikan dengan perencanaan tersebut. Dalam berbelanja kita harus dapat membedakan antara kebutuhan dengan keinginan. Jika ada kelebihan, gunakan untuk keperluan yang waktunya masih lama.
Contoh konsumtif : Seorang remaja berganti-ganti model handphone setiap 3 bulan sekali, karena dia ingin disebut uptodat oleh teman-temannya


4. Konsumerisme
Konsumerisme adalah paham atau ideologi yang menjadikan seseorang atau kelompok melakukan atau menjalankan proses konsumsi atau pemakaian barang-barang hasil produksi secara berlebihan atau tidak sepantasnya secara sadar dan berkelanjutan. Hal tersebut menjadikan manusia menjadi pecandu dari suatu produk, sehingga ketergantungan tersebut tidak dapat atau susah untuk dihilangkan. Sifat konsumtif yang ditimbulkan akan menjadikan penyakit jiwa yang tanpa sadar menjangkit manusia dalam kehidupannya.
Contoh perilaku konsumerisme : seseorang yang tidak pernah puas dengan kebutuhannya (handphone) setiap ada keluaran terbaru pasti ingin memilikinya.